Ini Dia Manfaat Besar Virtual Reality untuk Penderita Autis

Ini Dia Manfaat Besar Virtual Reality untuk Penderita Autis

Ini Dia Manfaat Besar Virtual Reality untuk Penderita Autis

Manfaat Virtual Reality untuk Penderita Autis -. Autis adalah salah satu jenis penyakit yang mengganggu perkembangan komunikasi verbal dan non-verbal serta interaksi sosial daripada penderitanya. Mereka yang mengalami penyakit ini, akan memiliki perilaku yang kaku dan juga berulang.

Ya, kita dapat mengetahuinya dari gerakan-gerakan seperti tangan yang selalu bergoyang atau mengepal. Tanda seseorang yang mengalami penyakit ini, biasanya dapat diketahui pada tahun ketiga setelah lahir.

Tapi, tidak sedikit juga yang mengalami autis sejak lahir. Ada banyak faktor yang mempengaruhi autis ini terjadi. Semisal faktor keturunan, efek samping daripada alkohol, efek samping konsumsi obat, bayi lahir prematur dan lain-lain.

Satu topik menarik yang akan selalu dibahas saat kita berbicara autis adalah “Bisakah penderita autis untuk sembuh?”. Sampai saat ini, belum ada obat atau metode yang dapat menyembuhkan total penyakit autis ini.

Yang ada, adalah metode yang digunakan agar penderita autis dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial yang ada. 3 di antara banyak metode yang bisa dilakukan adalah;

  1. Terapi perilaku kognitif. Sebuah terapi yang ditujukan untuk melatih emosi, pikiran, kecemasan.
  2. Applied Behavior Analysis. Terapi yang dilakukan untuk mendorong penderita autis melakukan aktivitas positif. Biasanya dilakukan dengan sistem reward.
  3. Social Skills Training. Terapi yang dilakukan untuk mendorong penderita autis agar dapat melakukan interaksi dengan banyak orang.

Seiring dengan perkembangan waktu, dunia penelitian yang terus berkembang, menjadikan metode atau terapi untuk penderita autis semakin canggih. Sekarang, kita bahkan sudah bisa melibatkan virtual reality dalam proses terapi penderita autis. 

Ya, virtual reality adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk dapat melakukan interaksi satu sama lain di dalam dunia 3D, sebagai avatar. Teknologi yang bermula dari penemuan head-mounted display milik Ivan Sutherland ini, memang telah merambat ke berbagai bidang penting kehidupan manusia.

Salah satunya adalah bidang kesehatan, yakni menjadi tools pendamping terbaik saat penderita autis lakukan terapi. Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Vijay Ravindran.

Floreo, Sistem Pelajaran Virtual Reality

Beliau adalah mantan Chief Digital Officer dari Washington Post. Sebelumnya ia juga adalah bagian dari Amazon.

Vijay Ravindran Pencipta Sistem Floreo
Sumber: Nytimes.com

Didapatkan dari New York Times, Vijay Ravindran kemudian menjadi salah satu sosok penting dalam perkembangan virtual reality untuk terapi autis. Di mana setelah berhenti bekerja di tahun 2015, beliau memutuskan untuk fokus menemani putranya yang saat itu berusia 6 tahun, yang mengalami autis.

Ia berjuang hebat dengan selalu menemani anaknya menjalani terapi. Hingga suatu ketika, anaknya yang bermain-main dengan virtual reality mengalami perkembangan menakjubkan. Setelah menghabiskan 30 menit waktunya di Google Street View dunia virtual, anaknya pergi ke ruang bermain dan mulai memerankan apa yang telah dia lakukan di dunia virtual sebelumnya.

Dari sinilah, kemudian menjadi inspirasi untuk Ravindran. Setahun kemudian, ia menciptakan perusahaan bernama Floreo. Perusahaan virtual reality yang dirancang khusus untuk membantu proses terapi perilaku, wicara, pendidikan khusus pada penderita autis jadi lebih imersif.

Sistem Floreo untuk Terapi Penderita Autis
Sumber: Nytimes.com

4 tahun berselang sejak 2016, Floreo telah mengembangkan hampir 200 materi pelajaran virtual reality untuk penderita autis. Adapun sistem Floreo ini, dapat dijalankan melalui iPhone (minimal versi 7) dan headset VR serta iPad. Biaya yang diperlukan untuk mengikuti program ini, kira-kira $50/bulan.

Manfaat Virtual Reality untuk Penderita Autis

Floreo hanyalah salah satu contoh daripada penerapan teknologi VR untuk terapi penderita autis. Kita tentunya dapat menemukan banyak contoh lain. Seperti terapi VR yang dilakukan oleh Center for BrainHealth and Child Study di Yale University School of Medicine. Blue Room VR dari Newcastle University bersama dengan Third Eye NeuroTech, dan lain-lain.

Dari penelitian yang dilakukan, 25% dari 32 anak berusia 8-14 tahun, mengalami peredaan pengalaman fobia dua minggu setelah terapi terakhir dilakukan. Angka ini kemudian meningkat menjadi 38% setelah enam bulan.

Dari sini, kita dapat mengetahui dengan pasti manfaat besar yang diberikan oleh VR untuk terapi penderita autis. Beberapa di antaranya adalah;

  • Membantu penderita autis untuk menjalani simulasi kehidupan sehari-hari.
  • Membantu mereka untuk tampil lebih percaya diri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial yang ada.
  • Terapi fobia
  • Membantu mereka untuk dapat berbicara lebih lancar, baik itu antar personal ataupun di depan orang banyak.

Inilah penjelasan lengkap mengenai manfaat besar virtual reality untuk penderita autis.

Baca Juga: Inilah Cara Baru untuk Peneliti Lakukan Analisis Kesehatan Global

Apabila kamu berminat untuk melakukan kerjasama pembuatan aplikasi VR/AR/MR, hubungi nomor WhatsApp ini ya.

Dapatkan informasi keren tentang teknologi reality lainnya di LinkedIn Sobat Arunews dengan follow @arutalaid. Untuk Instagram, Sobat Arunews bisa follow @arutalaid.