Apa Saja Peran Virtual Reality untuk Terapi Kesehatan Mental

Apa Saja Peran Virtual Reality untuk Terapi Kesehatan Mental?

Apa Saja Peran Virtual Reality untuk Terapi Kesehatan Mental

Virtual Reality untuk Kesehatan Mental – Kesehatan mental menjadi salah satu masalah serius yang banyak disoroti oleh banyak orang di belahan dunia. Hal ini diungkapkan langsung dari data hasil survei Ipsos Global Health Service Monitor 2023.

Sebanyak 44% responden dari 31 negara menilai bahwa kesehatan mental adalah masalah kesehatan yang paling mengkhawatirkan. Bahkan tingkat kekhawatiran yang dimiliki dari penyakit ini lebih besar ketimbang penyakit kanker yang menempati urutan kedua.

Data Penyakit yang Paling Mengkhawatirkan
Sumber: Databoks.katadata.co.id

Berhubungan dengan masalah penyakit mental, stres berada di urutan ketiga dengan persentase kekhawatiran mencapai 30%.

Angka yang jelas yang sangat tinggi, dan di Indonesia sendiri, diketahui bahwa 1 dari 3 remaja usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Ada banyak jenis gangguan mental yang dialami oleh mereka. 5 di antaranya adalah;

  • Gangguan kecemasan.
  • Depresi mayor.
  • Gangguan perilaku.
  • Stres pasca-trauma.
  • Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Sebagaimana banyaknya jenis gangguan mental yang ada, kita juga punya banyak cara untuk bisa mengatasinya. Kita bisa mengatasi gangguan mental ini dengan melakukan berbagai pendekatan. Dimulai dari pendekatan parenting dari orang tua, lingkungan sosial yang baik, dan juga melalui teknologi.

Terkhusus yang terakhir, para ilmuwan telah berhasil mengembangkan sistem simulasi 3D untuk penderita gangguan mental. Sistem ini dijalankan melalui teknologi virtual reality. Lantas seperti apakah peran virtual reality untuk penderita penyakit mental?.

Simak baik-baik artikel ini ya!.

Peran Virtual Reality untuk Kesehatan Mental

Praktik virtual reality untuk menjaga kesehatan mental sebenarnya telah banyak diterapkan dalam industri kesehatan. Salah satu perusahaan virtual reality yang telah menjalankannya adalah XR Health.

Sebuah perusahaan asal Amerika yang memiliki program pengembangan teknologi XR (Extended Reality) untuk terapi mental. Melalui laman website mereka, kita dapat mengetahui bahwa VR untuk kesehatan mental mampu membantu pasien untuk mendapatkan pikiran positif dan motivasi untuk sembuh.

Dijelaskan lebih detail, virtual reality mampu membantu pasien mereka untuk dapatkan;

  1. Pengalaman imersif dan non-konfrontatif yang meningkatkan proses penataan ulang otak.
  2. Mengurangi bahkan menghilangkan stres pada sistem saraf.
  3. Virtual reality mampu menjadikan proses daripada Terapi Perilaku Kognitif (CBT), Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT), dan Terapi Psikodinamik jauh lebih menyenangkan.

Melalui program yang dilakukan oleh XR Health ini, pasien dapat dengan mudah menjalankan;

  • Manajemen stres yang baik.
  • Mengatasi kecemasan berlebihan.
  • Depresi, gangguan tidur, dan lain-lain.

Didapatkan dari data yang berbeda, konselor profesional Lucy Dunning mengatakan program virtual reality untuk kesehatan mental ini relatif baru.

Meskipun baru, Lucy Dunning mengatakan bahwa sesuai hasil penelitian awalnya, virtual reality dapat membantu orang-orang dengan PTSD, kecemasan berlebih dan nyeri kronis.

Ia menyebut bahwa VRET (Virtual Reality Exposure Therapy) memiliki tingkat keberhasilan antara 60-90% bagi penderita PTSD dalam proses terapi perilaku kognitif.

Penelitian dari JMIR Serious Games tahun 2022 mengungkapkan bahwa secara signifikan VR mampu membantu pasien untuk menghilangkan rasa sakit. Ini jelas alternatif terbaik dan menghilangkan ketergantungan akan obat pereda nyeri.

Lebih lanjut, penelitian di Annals of Behavioral Medicine mengungkapkan bahwa korban luka bakar yang dibawa ke dunia simulasi 3D penuh dengan salju, mampu menurunkan rasa sakit fisik yang dialaminya hingga 35-50%.

Prediksi di Masa Depan

Manfaat besar yang dimiliki oleh virtual reality untuk terapi kesehatan mental, menjadikan Lucy Dunning yakin akan menjamurnya program VRET di masa depan.

Ia sangat yakin akan hal ini, seiring dengan kemajuan teknologi yang baik, lebih murah dan lebih mudah diakses.

Keyakinan yang dimiliki oleh Lucy Dunning ini juga berbanding lurus dengan keyakinan yang dimiliki oleh CEO Arutala, Ahmad Zankie.

Sebagai salah satu pemimpin dari 5 perusahaan virtual reality ternama di Indonesia, Ahmad Zankie memiliki prediksinya sendiri untuk VR dalam bidang ini. Ia mengatakan;

Kesehatan mental adalah hal penting yang sering terabaikan oleh masyarakat. Beberapa bahkan masih percaya bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah mereka yang “lemah iman dan kurang bersyukur”, padahal penyebabnya lebih kompleks dan bukan hanya itu. Diperlukan berbagai pendekatan, dimulai pola parenting yang baik, kehidupan bersosial yang baik dan juga melalui teknologi

Untuk yang terakhir, kita bisa melakukannya melalui perangkat virtual reality. Hal ini senada dengan hasil penelitian para ahli yang mengatakan bahwa virtual reality untuk terapi kesehatan mental, mampu memberikan dampak yang nyata.

Bukan tidak mungkin di masa mendatang, VRET akan lebih banyak menjamur dan ketergantungan akan obat bisa berkurang.

Ahmad Zankie, CEO Arutala

Apabila kamu berminat untuk mendapatkan mitra terbaik di dalam untuk pengembangan VR, hubungi saja Arutala.id.

Baca Juga: Tantangan Pengembangan Virtual Reality

Dapatkan informasi keren tentang teknologi virtual di LinkedIn Sobat Arunews dengan follow @arutalaid. Untuk Instagram, Sobat Arunews bisa follow @arutalaid.