Inilah 9 Tantangan Pengembangan Virtual Reality yang Harus Kamu Ketahui!

Inilah 9 Tantangan Pengembangan Virtual Reality yang Harus Kamu Ketahui!

Inilah 9 Tantangan Pengembangan Virtual Reality yang Harus Kamu Ketahui!

Tantangan Pengembangan Virtual Reality – Virtual reality adalah teknologi terbarukan yang memungkinkan kita untuk dapat terhubung ke dalam dunia simulasi 3D sebagai avatar. Di dalam dunia simulasi 3D tersebut, kita bisa melakukan banyak hal tanpa perlu khawatir akan adanya batasan ruang dan waktu.

Teknologi ini sendiri pertama kali dikembangkan pada tahun 1968 melalui ide Head Mounted Display milik Ivan Sutherland. Semenjak itu pengembangan teknologi virtual reality terus berlanjut.

Dan sekarang telah banyak diterapkan di berbagai bidang industri kehidupan manusia.

Dimulai dari bidang pendidikan, kesehatan, manufaktur, desain bangunan, pertanian & peternakan, marketing, hiburan, dan lain-lain. Virtual reality mampu memberikan kita banyak manfaat. Virtual reality mampu memudahkan pebisnis untuk;

  • Menjalankan strategi try before you buy.
  • Memudahkan serta mempercepat proses prototipe dan desain.
  • Membantu pasien untuk hadapi rasa kecemasan yang berlebih.
  • Memberikan hiburan dan pengalaman gaming ke level yang berbeda.
  • Meningkatkan persentase keterlibatan pelajar dalam proses belajar mengajar.
  • dan lain-lain.

Sayangnya, untuk bisa menerapkan konsep virtual reality dalam bidang industri tertentu tidaklah mudah. Kita harus siap menghadapi berbagai kemungkinan serta tantangan pengembangan yang ada. Nah, berikut ini adalah 9 tantangan pengembangan virtual reality yang harus kita ketahui, apa saja?, simak baik-baik di sini ya!.

9 Tantangan Pengembangan Virtual Reality

1. Proses Pengembangan Latency yang Rendah

Tantangan yang pertama adalah sulitnya proses pengembangan latency rendah. Latency sendiri adalah proses atau waktu yang diperlukan jaringan untuk mentransfer seluruh data yang ada. Apabila latency memiliki nilai persentase yang tinggi, maka itu akan menjadikan pengguna cepat mual dan pusing.

2. Proses Pengembangan Resolusi Tinggi

Kedua adalah tantangan dalam proses pengembangan resolusi tinggi. Proses ini tidaklah mudah untuk dirumuskan. Sebagai developer, kita harus memastikan bahwa setiap perangkat lunak dan keras dapat bekerja dengan baik.

3. Mobilitas dan Beban Fisik

Tantangan pengembangan virtual reality yang ketiga adalah mobilitas dan beban fisik. Seperti yang kita tahu, headset VR umumnya memiliki ukuran yang besar serta masih didominasi oleh perangkat kabel. Ukuran yang besar menjadikannya begitu berat ketika dipasang di kepala, dan itu akan mengurangi mobilitas gerak yang ada.

4. Inovasi Konten Terbarukan

Tantangan berikutnya adalah developer yang harus dapat mencari inovasi konten terbarukan. Konten simulasi 3D yang diberikan haruslah dapat memenuhi kebutuhan dan mampu menjawab ekspektasi pengguna. Hal ini penting agar mereka (pengguna) benar-benar mendapatkan pengalaman yang menarik dan memuaskan.

5. Pola Interaksi

Selanjutnya adalah pola interaksi. Terkhusus di Indonesia, pola desain interaksi yang diberikan pada pengguna di dalam dunia simulasi 3D masih terbatas. Diperlukan proses riset data serta uji coba yang matang untuk virtual reality mampu memberikan pola interaksi yang lebih intuitif dan nyaman.

6. Proses Riset dan Pengembangan Perangkat Memerlukan Biaya yang Besar

Ya, sudah menjadi rahasia umum bahwa proses riset dan pengembangan virtual reality memerlukan biaya yang besar.

Biaya tersebut diperlukan untuk proses observasi data, visualisasi data, visualisasi data menjadi storyboard 3D, proses koding sistem, penyediaan perangkat headset VR, uji coba baik Alpha dan Beta, proses rilis, dan pemeliharaan.

Developer harus dapat mencari cara yang tepat agar bisnis tetap mendapatkan keuntungan dan berkelanjutan.

7. Tantangan Etika dan Privasi Keamanan

Masalah etika terlebih keamanan privasi pengguna adalah hal yang harus bisa dijamin oleh developer. Developer harus dapat menjelaskan secara detail bagaimana mereka menyimpan data pengguna serta menyimpannya agar tidak mudah diketahui pihak lain yang tidak bersangkutan.

8. Aksesibilitas

Berikutnya adalah masalah aksesibilitas. Kebanyakan developer virtual reality masih menganggap remeh akan poin penting ini. Padahal virtual reality adalah teknologi yang kegunaanya juga harus dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki disabilitas.

9. Dukungan dan Peraturan Pemerintah

Terakhir, yang juga menjadi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pengembangan VR adalah kebijakan pemerintah. Beruntungnya pemerintah Indonesia mendukung penuh proyek virtual reality untuk pembangunan negeri.

Pada saat acara Kick Off Transformasi Digital Sektor Pendidikan di Bali tahun lalu, Ditjen Aptika Kemkominfo, Dikki Rukmana menjelaskan bahwa tenaga pendidik harus dapat memanfaatkan teknologi terbarukan dalam proses belajar mengajar.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh CEO Arutala, Ahmad Zankie;

Pengembangan teknologi virtual reality memang tidaklah mudah, tetapi virtual reality adalah kunci untuk kita bisa mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan terutama dalam upaya menghadirkan immersive learning”

Ahmad Zankie, CEO Arutala

Apabila kamu berminat untuk mendapatkan mitra terbaik di dalam untuk pengembangan VR, hubungi saja Arutala.id.

Baca Juga: Dampak Positif dan Negatif Virtual Reality

Dapatkan informasi keren tentang teknologi virtual di LinkedIn Sobat Arunews dengan follow @arutalaid. Untuk Instagram, Sobat Arunews bisa follow @arutalaid.